Tiga Detik Saja

https://2.bp.blogspot.com/-orRgUbDez8A/VjMf3kFHHEI/AAAAAAAAANU/SE2WB4NR1UU/s320/6d103a9cd407dd3428493df46682eda2.jpg

Bintang tidak percaya bahwa dalam beberapa hari lagi dirinya akan berganti ‘status.’ Sebentar lagi – tepatnya seminggu lagi, dia akan menikah dengan pria pujaan hatinya, Juna. Namanya Arjuna Satria Nugroho. Ia diberikan nama ‘Arjuna’ karena ayahnya adalah penggemar berat tokoh pewayangan. Ayahnya juga berharap, kelak putranya akan berwajah tampan dan berjiwa ksatria, layaknya tokoh Arjuna sesungguhnya.
Rupanya harapan ayahnya terkabul. Ketika di bangku perkuliahan memang banyak mahasiswi di kampus yang mengincarnya. Tidak hanya bertampang rupawan. Status Juna sebagai gitaris band dan aktivis di kampus semakin menambah kesempurnaan diri Juna di mata para pengagumnya. Tidak peduli kakak kelas atau adik kelas, yang jelas para kaum hawa sudah kepincut pesona seorang Arjuna Satria Nugroho.

Bagi Juna, Putri Bintang Lestari adalah sosok perempuan yang unik. Pendapat Juna tidak salah. Di kampus, Bintang dikenal sebagai sosok yang aktif dan enerjik. Bintang aktif diberbagai kegiatan kemahasiswaan dan mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa Basket.       

Bintang dan Juna sebelumnya tidak saling mengenal. Padahal mereka kuliah di kampus yang sama, namun berbeda fakultas. Bintang di Fakultas Hukum, sedangkan Juna di Fakultas Teknik. Keduanya bertemu dalam satu kesempatan, ketika fakultas Bintang sedang mengadakan event olahraga dan mengundang band milik Juna untuk manggung di acara puncak. Disitu Bintang adalah salah satu panitia yang menjadi LO (Liaison Officer) band Juna. Pertemuan selanjutnya, terjadi saat Bintang dan Juna berada dalam satu departemen di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) kampus mereka. Dari situlah kemudian hubungan mereka berlanjut sampai saat ini, pertunangan yang sebentar lagi akan menikah.

Banyak teman yang mengatakan jika Bintang dan Juna adalah pasangan serasi. Sama-sama penyuka lagu-lagu indie, penyuka wisata kuliner, dan hobi naik gunung. Keduanya juga sama-sama wisudawan terbaik saat lulus. Tapi, ada satu sifat dalam diri Juna yang tidak disukai Bintang, Juna terlalu keras kepala dalam beberapa hal. Bagi Bintang, contoh sifat keras kepala Juna yang paling parah adalah saat mengendarai sepeda motor, Juna tidak menggunakan helm. Kalaupun pakai, terkadang helmnya tidak dikancingkan dengan benar. Setiap kali Bintang mengingatkannya, raut muka Juna selalu terlihat sedikit kesal.
“Jun, pakai helmnya sekarang,” pinta Bintang.
“Iya nanti kalau udah keluar dari gang ini aku pake ya Bi,” jawab Juna dengan nada malas.
“Ya sekarang aja emang kenapa sih? Pake engga?!” nada Bintang mulai meninggi.
“Iya nanti ya. Lagian disini engga ada polisi Bi. Kalaupun ditilang kan ada kamu, Bu pengacara.”
“Aku bukan pengacara.”
“Ya ampun, jangan ketus gitu dong Bi. Ini juga masih di dalam gang kecil kok, belum di jalan raya. Aman lah disini Bi.”
“Ini bukan masalah ditilang polisi atau di jalan raya. Aku kan sudah bilang berkali-kali, pakai helm itu keharusan buat pengendara motor biar dirinya selamat,” wajah Bintang merah padam menahan amarahnya untuk tidak memuncak lagi.
“Pakai helm tuh cepet tau. Paling cuma tiga detik aja pakainya. Tiga detik untuk selamanya Jun,” sambung Bintang.

Setelah ‘ceramah’ panjang lebar itu, biasanya Juna hanya bisa manyun dan menuruti perintah Bintang untuk memakai helm. Dia paling malas mendengar tunangannya menceramahinya panjang lebar tentang helm. Tak jarang masalah helm ini juga menjadi pencetus pertengkaran-pertengkaran Juna dan Bintang. Kalau bukan karena Juna tidak memakai helm, ya memakai helm tapi tidak dikancingkan. Juna masih ingat, terakhir kali mereka bertengkar karena masalah helm sekitar seminggu yang lalu. Juna selalu percaya kalau Bintang selama ini menasihatinya tentang helm karena ia adalah seorang mahasiswa hukum yang selalu menjunjung tinggi peraturan. “Ribet emang punya pacar anak hukum, apa-apa ketat banget sama peraturan,” Juna menggerutu.
***
Juna dan Bintang akan menggelar pesta pernikahan mereka di kota Gudeg, Yogya. Bagi mereka, Yogyakarta memberikan keistimewaan dan kenangan. Salah satunya karena pertemuan pertama mereka terjadi di Kampus Biru, julukan sebuah kampus ternama di kota tersebut. Selain itu juga karena keluarga mereka masing-masing tinggal di Yogya. Jika Juna merupakan orang asli Yogya, Bintang dan keluarganya baru ke Yogya di tahun pertama Bintang kuliah. Tinggal seminggu lagi pernikahan mereka akan digelar. Juna pun harus rajin mengecek kesiapan gedung pernikahan mereka.

Yogya sedang panas-panasnya ya
, batin Juna yang baru pulang mengecek persiapan akhir gedung pernikahan. Entah ada angin apa, tiba-tiba ia mendambakan segelas cappucinno dingin dari kedai kopi langganan dirinya dan Bintang ketika masa-masa kuliah dulu. Sejurus kemudian, ia mengeluarkan telepon seluler, lalu menghubungi Bintang untuk mengajaknya.
“Hai Putri Bintang,” sapa Juna dalam telepon.
“Hai Jun, ada apa?” tanya Bintang dari seberang telepon.
“Kamu sekarang lagi ada acara engga? Ke kedai kopi langganan kita yuk. Itu lho yang dulu sering kita datengin kalau mau cari internet gratis buat ngerjain tugas.”
“Hahaha, ada angin apa kamu tiba-tiba pengen kesitu?”
“Aku kangen cappucinno-nya, Bi.”
“Oh begitu. Tapi kalau sekarang aku engga bisa Jun. Nanti malam aja gimana?”
“Hmm baiklah. Jam 7 malam aku jemput kamu di rumah ya.”
“Oke deh Jun.”

Malamnya, tepat pukul 7 malam Juna menjemput Bintang di rumahnya dengan sepeda motor Pitung warisan kakeknya. Jika ayahnya penggemar tokoh pewayangan, kakeknya punya hobi mengoleksi motor-motor antik sekaligus mengutak-atiknya. Ya, darah ‘utak-atik’ mesin Juna mengalir dari kakeknya. Makanya ia memilih kuliah di Fakultas Teknik.

Juna sering sekali bercerita kepada Bintang tentang Motor Pitung warisan kakeknya itu, Saking cintanya dan bersejarah sekali motor itu, katanya. Usut punya usut, nama Pitung aslinya adalah sebuah singkatan. Pitung puluh, begitu kata orang Jawa. Asal katanya adalah karena sepeda motor pabrikan Honda ini bermesin 70cc, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa menjadi Pitung Puluh. Motor ini pun pernah menjadi tren di tahun 1960an. Tapi jangan salah. Walaupum umur Pitung milik Juna sudah tua, namun berkat kekreatifannya, si Pitung disulap menjadi motor yang apik dan enerjik.

Juna datang ke rumah Bintang lengkap dengan menggunakan helm yang telah dikancingkan. Ia tidak mau malam itu dirinya dan Bintang bertengkar hanya karena masalah helm. Kali ini ia harus ‘berkorban’ memakai helm demi Bintang. Sebenarnya Juna tidak terlalu suka memakai helm. Kenapa? Karena baginya memakai helm akan merusak bentuk rambutnya saja. Belum lagi terkadang ada sensasi gatal ketika sedang memakainya. Ugh! Kalau sudah begitu Juna tidak tahan!

Mereka langsung meluncur ke kedai kopi langganan mereka. Kedai kopi itu letaknya tidak jauh dari pusat kota Yogya. Sesampainya disana, wangi kopi yang sedang di roast tercium kuat hingga ke parkiran motor yang tepat berada di samping dapur kedai itu. Keduanya lantas masuk ke dalam kedai. Mereka masih merasakan suasana sama seperti 2 tahun yang lalu. Tenang dan cozy. Lagu yang diputar juga selalu ear-catching. Contohnya seperti saat ini, lagu yang diputar adalah ‘Karolina’ milik Band Sore. Satu pemandangan yang masih tetap familiar menghiasi kedai kopi itu: selalu dienuhi oleh mahasiswa yang rata-rata datang untuk mengerjakan tugas atau sekedar bercengkrama dengan teman-temannya. Ah, Bintang dan Juna jadi rindu masa-masa kuliah.

Seorang waitress datang menghampiri meja mereka, memberikan buku menu. Juna yang awalnya akan memesan cappucinno dingin berubah pikiran karena tergoda untuk memesan secangkir kopi Lampung hangat, sedangkan Bintang memesan secangkir caffé latte hangat. Tak lama pesanan mereka datang. Sembari menikmati hangatnya kopi, keduanya terlibat perbincangan santai.
“Gimana, tadi persiapan gedungnya Jun?” Tanya Bintang sambil menyeruput caffé latte nya.
“Tadi aku lihat udah 90% Bi. Insya Allah lancar sampai hari-H ya.”
“Amiin. Makanya kita harus jaga kesehatan juga sampai hari-H, Jun.”
“Iya Bi. Pasti…”
“Termasuk kalau mau naik motor, jangan ngebut lalu HARUS pakai helm dan di kancingin,” Bintang menekankan kata ‘harus’ kepada Juna.
Air muka Juna langsung berubah. Mulai deh. Lagi-lagi nasihat tentang helm, batin Juna.
“Kenapa bahas helm lagi sih Bi…”
“Serius ini penting. Aku engga mau kamu celaka Jun.” kata Bintang dengan raut wajah serius.
“Iya iya, tapi kamu hobi banget kampanye tentang helm deh Bi.”

Bintang terdiam. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sendu. Juna tahu kalau beberapa kali Bintang mengalami kecelakaan motor. Tapi semua kecelakaan itu bukan karena kesalahannya. Juna selama ini hanya tahu jika dari seluruh kecelakaan yang Bintang alami akibat terserempet motor dan mobil yang ugal-ugalan. Walaupun sering terserempet, untungnya Bintang hanya mengalami luka-luka ringan. “Kamu tahu kenapa aku sangat peduli dengan helm? Karena aku pernah mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan Jun."
*** 
Waktu itu Bintang masih bersekolah di salah satu SMA Negeri ternama di Ibukota. Ia punya sahabat dekat yang bernama Keenan. Kebetulan mereka selalu satu sekolah dari SD sampai SMA. Suatu ketika, ibu Bintang sedang berulangtahun dan Bintang berencana membelikannya kue ulangtahun. Keenan pun berjanji akan menemani Bintang membeli kue ulangtahun setelah rapat OSIS. Disinilah peristiwa mengerikan itu bermula. Usai membeli kue, Keenan mengantarkan Bintang pulang ke rumah dengan mengendarai motor matiknya. Rumah Bintang letaknya tidak jauh dari toko kue itu, kira-kira hanya berjarak 700  meter saja. Karena itu lah Keenan tidak memakai helm.
“Cuma deket kok Bi, bentar lagi sampai. Soalnya panas nih kalau pakai helm,” kata Keenan.
Bintang hanya geleng-geleng mendengarnya sambil memakai dan mengancingkan helm half face-nya.
“Nan, jangan ngebut-ngebut ya. Lo kan engga pakai helm,” kata Bintang mengingatkan.
Selow, kecepatannya cuma 40 km/jam kok. Ini juga kita jalan di pinggir-pinggir aja,” kata Keenan santai.
“Tapi kan tetep aja kita ini di jalan raya Nan…”
“Udah santai aja Bi. Aku bakal hati-hati kok.”

Meskipun begitu, perasaan Bintang tetap saja was-was. Hati kecilnya berkata, akan ada sesuatu hal buruk yang terjadi. Baru saja Bintang membatin, tiba-tiba Keenan  mengengok ke belakang sambil berteriak kegirangan “Bi, barusan Luna gebetan gue lewat tuh!” Bintang pun tanpa sadar ikut menoleh juga. Sedetik kemudian yang Bintang rasakan hanyalah perih di kedua lututnya dan pandangan samar-samar yang akhirnya berubah menjadi gelap.

Ketika terbangun dirinya mendapati sudah berada di rumah sakit. Ternyata ia dan Keenan mengalami kecelakaan. Motor yang mereka tumpangi menabrak trotoar. Menurut ayah Bintang, berdasarkan pengakuan saksi mata di lokasi, konon peristiwa itu terjadi karena pada saat berkendara Keenan menengok ke belakang. Akibatnya, tanpa sadar motornya semakin menepi ke trotoar hingga akhirnya ban depan motor Keenan menabrak trotoar. Keenan mengalami luka yang sangat serius. Kepalanya-yang tidak terlindungi helm terbentur sisi trotoar. Keenan yang sempat koma selama seminggu lalu harus menghembuskan nafasnya karena pendarahan di kepalanya cukup parah.

Bintang tentu sangat sedih kehilangan sahabatnya. Sejak kejadian itu, Bintang selalu mengingatkan teman dan orang-orang terkasihnya agar selalu memakai helm dengan benar jika akan berkendara. Selain itu ia juga meminta untuk selalu menjaga kefokusan ketika berkendara dan tidak ugal-ugalan.

Setelah menceritakan peristiwa pilu yang dialaminya, Bintang kembali terdiam saja. Matanya menatap nanar cangkir yang berada di depannya. Juna merasa ngilu membayangkan kecelakaan yang dialami Bintang dan Keenan. Sekarang Juna mengerti mengapa Bintang begitu cerewet menyuruh dirinya agar tidak malas memakai helm. Bintang hanya tidak ingin kejadian yang mengalami Keenan, juga menimpa dirinya. Malam semakin larut. Keduanya memutuskan untuk pulang.
***
Tinggal 3 hari lagi Bintang dan Juna akan menikah. Karena itu, Juna ingin memberikan kejutan spesial untuk Bintang. Ia akan mengajak Bintang untuk melihat rumah mereka yang telah selesai dibangun. Mereka memang telah membeli sebuah kavling tanah di komplek perumahan baru yang berlokasi di Jalan Kaliurang. Di atas kavling tanah itu, dibangunlah rumah minimalis idaman mereka. Selama pembangunannya, memang Bintang tidak pernah pergi menengok. Dia hanya melihat desainnya saja ketika dulu rumah itu hendak dibangun. Akhirnya sore itu Juna menjemput Bintang di rumahnya untuk melihat rumah mereka yang telah selesai dibangun. Kali ini, Juna datang tidak dengan si Pitung, melainkan dengan motor matik milik adiknya yang bergaya retro. Motor matik retro-nya itu lengkap dengan helm yang bergaya retro pula.
“Wah tumben engga bawa si Pitung Jun?” tanya Bintang.
“Iya nih. Dia lagi ngambek, engga mau hidup tadi. Makanya bawa si Upi,” Jawab Juna sambil menepuk-nepuk motor retro adiknya.
“Hahaha empunya mau kawin malah mogok,” Bintang tertawa renyah.
“Iya nih. Kayaknya cemburu dia hahaha,” Juna juga ikut tertawa.
“Ngomong-ngomong kita mau kemana sih?” tanya Bintang penasaran.
Bintang tidak tahu sebenarnya sore itu mereka akan pergi kemana.
“Ra-ha-si-a Bi.” Juna terkekeh. “Udah, langsung naik aja yuk Bi. Keburu maghrib.”
Bintang sudah bersiap mengambil ancang-ancang untuk duduk di belakang Juna. Namun, ia menghentikan aksinya karena teringat sesuatu.
“Eh…kamu bawa helm satu lagi kan?” tanya Bintang ke Juna.
Ia tidak melihat helm lain yang biasa tergantung di motor Juna.
“Oh iya, lupa. Bawa kok Bi. Ada di jok nih,” ujar Juna sambil mengeluarkan helm dari bawah jok motor dan memberikannya kepada Bintang.
“Eh tapi sebelum pakai helm, tutup mata kamu dulu ya pakai ini” Juna menutup mata Bintang dengan sehelai kain.
“Ya Ampun. Misterius amat sih Mas Arjuna,” ujar Bintang.

Juna memacu motornya menuju ke ‘rumah idaman’ mereka. Yogya tidak begitu macet seperti Jakarta. Tinggal di Yogya itu hemat waktu, kalau kata Bintang. Mau pergi kemanapun tidak terlalu makan waktu yang lama karena macet. Itulah yang membuat Bintang senang tinggal di Yogya daripada di Jakarta. Akhirnya setelah perjalanan yang memakan waktu selama 20 menit, mereka tiba juga di ‘rumah idaman.’

Bintang turun dari motor, lalu Juna menuntutnnya agar berdiri menghadap persis di depan rumah. Ia pun melepas penutup mata Bintang. Bintang mengerjap-ngejapkan matanya yang selama 20 menit telah ditutup sementara. Ia pun lalu memandang takjub bangunan yang ada di depannya.
“Wah, rumahnya sesuai sama ekspektasi aku Jun. Bagus banget!” ujar Bintang.
“Ternyata kamu mau ngasih kejutan aku ini ya. Dasar!” Bintang mencubit perut Juna gemas. Juna meringis.
“Hahaha…bagus kan. Rumah kita adalah salah satu rumah yang udah jadi nih Bi dari sekian rumah yang ada di komplek ini,” kata Juna.

Memang komplek perumahan mereka adaalah  komplek perumahan yang baru dibangun. Oleh karena itu, masih banyak pembangunann rumah di komplek tersebut yang belum selesai. Hari mulai gelap. Setelah puas melihat sekeliling rumah itu, Juna kemudian mengajak Bintang untuk pulang. Bintang lalu memakai helmnya. Namun Juna tidak memakai helmnya. Dia langsung menghidupkan motornya.
“Jun, pakai helm dong. Ingat ceritaku kemarin gimana?”
“Iya Bi. Nanti ya. Lagi sumpek nih kepalaku. Sebentar ya cari angin dulu Bi,” kata Juna. “Nanti setelah keluar dari komplek aku janji pakai deh.”
“Yaudah beneran dipakai ya. Hati-hati lho bawa motornya,” pinta Bintang yang kini sudah duduk dibelakang Juna.
Juna mengacungkan jempolnya tanda ia akan menuruti permintaan Bintang. Ia lalu menancapkan gas motornya.

Komplek perumahan itu memang sangat luas. Jadi untuk mencapai gerbang utama dari ‘rumah idaman’ mereka memang sedikit jauh. Mereka harus melewati beberapa blok di komplek itu. Melihat jalanan komplek yang sepi, tiba-tiba terbesit keinginan Juna untuk mengadu adrenaline-nya. Sekali-kali sedikit ngebut di tempat sepi kayak gini engga apa-apa kali yaLagian ini di komplek kok bukan di jalan raya. Juna berusaha mencari pembenaran dalam dirinya. Ia lalu menyuruh Bintang untuk berpegangan, “Pegangan ya, Bi.”

Bintang kaget karena Juna mendadak menarik gas. Akhirnya ia merangkul pinggang Juna untuk berpegangan. Baru saja Bintang akan memarahi Juna karena tiba-tiba ngebut, Juna melakukan rem mendadak karena di depannya ada seekor kucing yang berlari mengejar tikus. Kala itu jalanan yang mereka lalui berpasir, bekas pasir sisa-sisa sebuah rumah yang telah selesai dibangun. Tidak sampai sedetik kemudian, motor yang mereka tumpangi terjatuh karena ban motor tergelincir di atas medan berpasir.

Keduanya tersungkur dengan jarak tak berjauhan. Bintang lalu bangun dengan susah payah. Kedua telapak tangan dan lututnya berdarah terkena pasir-pasir tajam dan aspal. Untung kepalanya baik-baik saja. Helmnya masih bertengger disana. Mata Bintang lalu mulai mencari-cari Juna sambil memanggilnya dengan suara lirih. Pandangannya lalu terhenti di sebuah sudut. Ia menemukan Juna terbaring dengan kepala yang bersimbah darah. Nampaknya kepalanya terbentur tumpukan batu bata yang berada di belakangnya.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Bintang kemudian berdiri dan berjalan tertatih-tatih menghampiri Juna. Ia takut nasib Juna akan sama seperti Keenan. Bintang sedikit bernafas lega karena menemukan Juna masih dalam keadaan sadar. Ia lalu berbisik lirih kepada Bintang “M-maafin a-aku ya Bi-” Juna lalu tidak sadarkan diri. Bintang panik lalu menelepon ayah ibunya untuk meminta pertolongan. Setelah ayah ibunya datang, keduanya kemudian dibawa ke rumah sakit. Diketahui dari pemeriksaan dokter, akibat dari kecelakaan itu Juna mengalami pendarahan di kepalanya. Ia diharuskan menjalani perawatan selama beberapa hari di rumah sakit. Beruntung nyawa Juna dapat cepat diselamatkan.

Usai luka-luka Bintang dibersihkan, ia lalu berjalan menuju kamar perawatan Juna untuk melihat keadaannya. Disana Juna terbaring lemah dengan kondisi yang sudah sadar. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Bintang lalu menanyakan keadaan Juna.
“Gimana keadaan kamu Jun? Sakit banget kepalanya?” Bintang mengusap kepala Juna.
“Ya gitu deh Bi…” Juna tersenyum sambil meringis menahan sakit. “Bi, maafin aku ya. Gara-gara aku ngebut. Gara-gara aku engga pakai helm, pernikahan kita tertunda.”
“Engga apa-apa Jun, yang penting kamu sembuh dulu ya,” kata Bintang lembut sambil menggenggam tangan Juna. “Aku bersykur nasib kamu engga berakhir seperti Keenan.”
“Iya Bi. Alhamdulillah banget. Mulai saat ini aku berjanji pada diriku sendiri, Bi. Aku janji untuk selalu memakai helm saat akan berkendara. Entah itu dimana dan seberapa dekat jaraknya.”

Juna semakin menggenggam erat tangan Bintang. Pandangannya kembali menerawang jauh. Bersyukur, dirinya masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melanjutkan hidup. Karenanya, ia tidak akan lagi mengulang kesalahan yang hampir merenggut nyawanya itu.


-TAMAT-



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com.


No comments:

Post a Comment